Peran Pendidikan Pesantren
“Dunia ini sekarang tidak sedang perang senjata, namun
sedang perang persepsi (War of Perception),
didikan Pesantren yang bisa menjawabnya”.
Begitulah pernyataan yang dilontarkan oleh salah seorang Ulama Besar Indonesia
yang juga merupakan Rais Syuriah PBNU
dan Sekjen International Conference of
Islam Scholar Dr. KH. A Hasyim Muzadi. Dalam acara Tabligh Akbar
“Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw” di Ponpes Al Falah Dago Bandung
beberapa waktu silam. Dalam mukadimahnya beliau mengungkapkan jika saat ini
agama Islam sudah mendapati musuh yang nyata. Jika dulu perang berkecamuk dengan
senjata dari zaman Rasulullah saw. hingga awal abad 20 demi tegaknya kebenaran
nilai-nilai agama Islam, tetapi kini kita sedang berperang melawan persepsi
lewat opini-opini yang dimunculkan oleh media. Kita sekarang bingung membedakan
antara yang hak dan yang batil, yang benar disalahkan dan yang salah seolah
benar.
Dengan kondisi demikian, jelas menjadi sebuah ancaman
bagi umat Islam yang ada di Indonesia, bahkan di dunia. Kondisi ini diperparah
dengan kondisi dalam negeri. Di antaranya banyak pemimpin di negeri ini yang zalim
terhadap rakyatnya. Budaya laten seperti mencuri dan korupsi menjadi sebuah hal
yang lumrah. Bahkan, ada paradoks antara kontradiksi negara Indonesia yang
mayoritas rakyatnya beragama Islam dengan negara Taiwan yang hampir 90 persen
non-Islam, perihal nilai kejujuran. Jika Anda sedang bepergian ke negara
Taiwan, jangan khawatir barang Anda akan hilang. Kalau pun lupa pasti akan
dikembalikan. Akan tetapi, di Indonesia, sebelum lupa pun barang Anda sudah
hilang. Lantas muncullah pertanyaan apa yang salah dengan perilaku masyarakat
kita? Apakah Islamnya yang salah? Jelas bukan! karena Islam sendiri adalah
agama yang sempurna, Islam itu dinnulhaq,
Islam itu tidak menunggu dibenarkan orang. Seperti keterangan yang teruang
dalam Alquran Surah Al-Fath ayat 28 yang artinya:
“Dialah yang
mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak (benar) agar Dia
menangkan atas semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi”.
Jadi, Islam itu sudah benar sendiri, kalau terjadi
kesalahan itu pasti karena orangnya.
Model Pendidikan Pesantren
Perilaku para pemimpin berasal dari pola pendidikan yang
dilakukannya sejak kecil. Di Indonesia, salah satu model yang khas dan tidak
terdapat di negara lain, yakni Pesantren. Pendidikan pesantren mengajarkan ilmu
agama dan tidak menutup pula belajar ilmu umum. Akan tetapi, di pesantren kita
juga diajarkan khasyiatullah atau
takut pada Allah. Jadi dalam setiap pengamalan ilmunya kita tidak akan berani
untuk menyalahgunakan ilmu yang sudah didapat.
Ada beberapa tipe orang berilmu. Ada yang berilmu
manfaat, berilmu mubazir, dan berilmu merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
Berilmu manfaat artinya dia yang berhasil menerapkan nilai khasyiatullah, ilmu yang didapat digunakan sebagai alat berdakwah
dan menyampaikan kebenaran pada orang lain. Selanjutnya, berilmu mubazir adalah
dia yang memiliki ilmu, tetapi tidak mengamalkannya, jelas ini menjadi sebuah
kerugian. Terakhir, adalah ilmu yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
Tipe terakhir inilah yang harus dihindari. Inilah yang terjadi pada kebanyakan
pemimpin kita saat ini. Zaman dahulu orang masuk penjara terlebih dahulu, baru
masuk istana. Sekarang masuk istana terlebih dahulu, baru masuk penjara.
Inti pendidikan adalah karakter, inti budaya itu akhlak,
inti hukum ialah keadilan. Akan menjadi sebuah keniscayaan apabila pendidikan
semacam itu masih melekat di Indonesia, yakni di pendidikan pesantren. Negeri
ini sudah sangat merindukan para pemimpin yang khasyiatullah dan sayang pada rakyat sebagai modal melawan perang persepsi
buruk terhadap nilai-nilai kebenaran yang kian hari kian pudar. Jadi, bisakah
pendidikan pesantren itu menjadi obat bagi kerusakan bangsa Indonesia dari segi
akhlak dan nilai-nilai moral? Ya, pasti
bisa!
Komentar
Posting Komentar