Menjadi Mahasiswa Ideal, Berlabuh pada Organisasi

Fantastis! adalah ungkapan yang barangkali bisa mewakili perasaan pemuda yang berhasil mencicipi perguruan tinggi. Hal tersebut bukan sesuatu yang dilebih-lebihkan (baca: hiperbola) karena berhasil menjadi salah satu pemuda yang beruntung di antara jutaan pemuda lain. Bisa dibilang “mimpi, tapi nyata” karena berkuliah di era kekinian bak mendapatkan durian runtuh.
Banyak faktor yang menyebabkan minimnya kesempatan untuk berkuliah. Di antaranya, yakni terganjal oleh biaya masuk yang selangit. Pemerintah belum sepenuhnya mengamalkan amanat UUD 1945 pasal 31 yang salah satunya menjelaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Oleh karena itu, kita yang sekarang sedang tidak bermimpi berkuliah, jangan menyia-nyiakan kesempatan langka ini!

Mahasiswa dan Organisasi Kampus
Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, (KBBI edisi IV, 2008). Sering kali mahasiswa dianggap sebagai ‘kaum intelektual’ karena diberikan wadah yang begitu luas untuk memperoleh ilmu dan melatih kekritisan berpikir.
Mahasiswa memiliki peran dan fungsi yang begitu besar terhadap nasib bangsa ini. Tidak hanya bertanggung jawab atas akademiknya, namun realitas sosial yang terjadi di masyarakat pun mahasiswa harus ikut andil.
Kampus adalah dunia persinggahan sebelum terjun ke lingkungan sosial sesungguhnya, yaitu masyarakat. Hal utama yang mesti dilakukan ketika sudah berstatus sebagai (maha)siswa tentu harus visioner dengan memiliki rencana matang untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki.
 Banyak ilmu yang bisa kita dapatkan dari kampus. Maka  jangan heran ketika kampus bisa menjadi ladang ilmu yang bisa kita panen sepuasnya atau hanya dijadikan tempat untuk mencetak  ‘gelar akademis’, itulah problem mahasiswa kekinian.
Salah satu jalan untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan berorganisasi. Apa itu organisasi? Bukan sebuah rahasia umum lagi bahwa organisasi telah begitu banyak memberikan manfaat bagi kita. Menurut Sutarto (1985) organisasi adalah sistem yang saling berpengaruh antarorang dalam kelompok yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Organisasi juga memberikan manfaat yang begitu besar bagi orang-orang yang bergiat di dalamnya. Sederhananya, organisasi adalah wadah untuk mencapai tujuan bersama dan menggali ilmu serta berbagai aspek kehidupan. Organisasi mengajarkan kita perihal kepemimpinan, manajemen organisasi, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Secara umum, organisasi memang memiliki manfaat yang sama. Namun, jika kita lebih khusus lagi mengenai organisasi di kampus, sejatinya akan lebih banyak manfaat yang bisa didapatkan. Berbeda dengan organisasi sebelumnya, mungkin yang didapatkan semasa sekolah menengah, organisasi mahasiswa lebih bisa menjanjikan manfaat yang sangat luar biasa.
Apabila kita hanya mengandalkan ilmu hanya dari perkuliahan saja, tentu tidak akan cukup. Mahasiswa bukan lagi siswa yang harus mengikuti apa kata gurunya, namun harus bisa lebih dari itu. Oleh karenanya, berorganisasi bagi penulis sendiri menjadi hal yang wajib di samping tanggung jawab mahasiswa yang paling utama, yakni akademik.

Melawan Kondisi Objektif
Seiring dengan kondisi kampus yang saat ini sedang memprihatinkan, yang merupakan buntut dari isu nasional, sudah seharusnya kita sebagai mahasiswa selalu waspada untuk tetap menjadi mahasiswa yang ideal.
Hari ini tuntutan akademik begitu tinggi, mahasiswa dipaksa untuk segera menyelesaikan masa studinya sehingga tidak sedikit melahirkan mahasiswa akademis yang orientasinya mementingkan akademiknya saja (kuliah, red). Hal ini akan berbuntut semakin sedikitnya mahasiswa organisatoris di kampus yang tentu akan menjadi threat (ancaman) bagi kita, mahasiswa.
Ada beberapa karakter yang saat ini menjadi musuh utama mahasiswa, yakni apatis dan hedonis. Saat ini tidak sedikit  mahasiswa yang hedonis (hanya mencari kesenangan materi) dengan kecenderungannya menjadi apatis (acuh tak acuh) terhadap apa yang terjadi di kampus, dua karakteristik yang tentu harus dijauhi mahasiswa.  
Menjadi mahasiswa ideal yang dicita-citakan sebetulnya sebuah pilihan dengan standardisasi berbeda. Menjadi akademis yang baik adalah kewajiban, namun menjadi seorang organisatoris pun harus menjadi suatu kebutuhan untuk lahirnya keseimbangan. Belum lagi tingkat religiositas kita yang tidak boleh ditinggalkan.

Jadi, jangan sampai kita salah menentukan pilihan karena ke depan akan menjadi seperti apa harus ditentukan dari sekarang.  Selamat mencoba untuk menjadi mahasiswa ideal!

Komentar