Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Merindukan Kembali Sosok Soe Hok Gie

Gambar
Sebagai mahasiswa, tentu siapa yang tak mengenal Soe Hok Gie, seorang aktivis angkatan’66. Namanya sampai kini tetap dikenal sebagai seorang yang pernah berjuang mengatasnamakan kepetingan rakyat. Di masanya Soe dikenal sebagai mahasiswa yang tidak pernah skeptis terhadap realitas sosial yang terjadi pada bangsa ini. Saat kebanyakan mahasiswa lainnya hanya  diam, Soe selalu gencar untuk masuk ke dalam komunitas intelektual yang akhirnya menuntut Soe ikut menyuarakan penolakan terhadap penyimpangan. Dikenal sebagai seorang yang “gila” membaca, membuat kemampuan menulisnya pun luar biasa. Tidak hanya pandai menyuarakan, tetapi cerdas dalam menulis analisis kritisnya ke dalam tulisan. Itu lah satu dari banyaknya karakter S oe yang perlu kita teladani dan menjadikannya sebagai tokoh idola mahasiswa “kritis”. Hal itu sangat beralasan karena jika tidak ada yang seperti Soe maka mahasiswa telah mengalami fase degradasi secara pemikiran. Kalau bukan kita yang mahasiswa siap...

Pak Gubernur Tak Pernah Berkunjung

Sebagai salah seorang santri di Pondok Pesantren  Al-Falah Dago,  jujur saya merasa heran. Padahal Ponpes Al-Falah adalah pesantren yang jaraknya paling dekat dengan Pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Ponpes Al-Falah terletak di  jalan Cisitu Baru no 21 kel. Dago Kec. Coblong Bandung. Tetapi, sekali pun pesantren ini belum pernah dikunjungi oleh Bapak Gubernur. Beberapa kali, kami mengajukan surat undangan kegiatan di Ponpes pun Bapak Gubernur selalu urung untuk hadir. Padahal, sebagai warga Jawa Barat tentu tahu bahwa Pa Gubernur adalah sosok pemimpin yang religious. Ya, semoga saja surat keresahan saya ini bisa ditanggapi oleh Pak Aher.  Karena ini menjadi sangat penting dengan hadirya Pak Gubernur, setidaknya menunjukan bahwa Pesantren ini menjadi salah satu yang mesti diperhatikan oleh pemerintah daerah, khususnya Jawa Barat. PENGIRIM: Kelvin Prabowo, Santri Pondok Pesantren Al-Falah Dago Bandung. 

Langkah Strategis, Menikah Muda?

Pasangan yang memilih untuk menikah sebelum lulus kuliah, tidaklah salah. Terlebih, jika keputusan itu merupakan langkah strategis atas dasar kesepakatan keluarga kedua belah pihak. Ada beberapa manfaat yang bisa diambil. Pertama, bisa menghindari dari perbuatan yang dilarang oleh agama, yakni mendekati zina atau berzina. Kedua, bisa menjadi spirit lebih untuk senantiasa berpikir lebih dewasa dan lebih maju. Meski pun, tidak menutup kemungkinan akan timbul masalah, karena faktor usia yang belum matang. Namun, itu semua bisa terbantahkan jika sebelumnya pasangan tersebut sudah mempersiapkan dengan sebaik mungkin dan konsisten atas perencanaannya. 

Visioner dan Konsisten

Mahasiswa memiliki peran dan fungsi yang sangat besar. Sebagai golongan intelektual, mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi bibit unggul calon pemimpin di masa depan. Untuk itu, setidaknya ada dua hal penting yang harus dimiliki mahasiswa. Pertama,  mahasiswa harus memiliki pola pikir yang visioner, artinya harus memiliki pemikiran yang jauh ke depan. Bagaimana dan seharusnya seperti apa? Dengan demikian, itu akan mengasah mahasiswa memahami kondisi bangsa ini dan berpikir solutif untuk perbaikan di masa depan. Kedua, mahasiswa juga harus memiliki pemikiran dan sikap yang konsisten. Karena sejatinya mahasiswa juga merupakan pressure group . Mahasiswa sebagai sebagai golongan terdepan mengkritisi ketika ada penyimpangan yang dilakukan oleh para pemimpin kita. Para pemimpin kita saat ini pun adalah orang-orang yang dulunya gencar mengkritisi. Akan tetapi, setelah mereka kini menjadi pemimpin yang sesungguhnya dan masuk ke dalam sistem, seolah mereka lupa dengan apa yang mereka perjuan...

Menjadi Mahasiswa Ideal, Berlabuh pada Organisasi

Fantastis! adalah ungkapan yang barangkali bisa mewakili perasaan pemuda yang berhasil mencicipi perguruan tinggi. Hal tersebut bukan sesuatu yang dilebih-lebihkan (baca: hiperbola) karena berhasil menjadi salah satu pemuda yang beruntung di antara jutaan pemuda lain. Bisa dibilang “mimpi, tapi nyata” karena berkuliah di era kekinian bak mendapatkan durian runtuh. Banyak faktor yang menyebabkan minimnya kesempatan untuk berkuliah. Di antaranya, yakni terganjal oleh biaya masuk yang selangit. Pemerintah belum sepenuhnya mengamalkan amanat UUD 1945 pasal 31 yang salah satunya menjelaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Oleh karena itu, kita yang sekarang sedang tidak bermimpi berkuliah, jangan menyia-nyiakan kesempatan langka ini! Mahasiswa dan Organisasi Kampus Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, (KBBI edisi IV, 2008). Sering kali mahasiswa dianggap sebagai ‘kaum intelektual’ karena diberikan wadah yang begitu luas untuk memperoleh ilm...

Peran Pendidikan Pesantren

“Dunia ini sekarang tidak sedang perang senjata, namun sedang perang persepsi (War of Perception) , didikan Pesantren yang bisa menjawabnya ”. Begitulah pernyataan yang dilontarkan oleh salah seorang Ulama Besar Indonesia yang juga merupakan Rais Syuriah  PBNU dan Sekjen International Conference of Islam Scholar Dr. KH. A Hasyim Muzadi. Dalam acara Tabligh Akbar “Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw” di Ponpes Al Falah Dago Bandung beberapa waktu silam. Dalam mukadimahnya beliau mengungkapkan jika saat ini agama Islam sudah mendapati musuh yang nyata. Jika dulu perang berkecamuk dengan senjata dari zaman Rasulullah saw. hingga awal abad 20 demi tegaknya kebenaran nilai-nilai agama Islam, tetapi kini kita sedang berperang melawan persepsi lewat opini-opini yang dimunculkan oleh media. Kita sekarang bingung membedakan antara yang hak dan yang batil, yang benar disalahkan dan yang salah seolah benar. Dengan kondisi demikian, jelas menjadi sebuah ancaman bagi umat Islam yang ada ...